Sejarah Bandara Abdulrachman Saleh
Logo Dishub
Logo Malang
Monumen Sejarah Dirgantara

MANUSKRIP
HISTORIS

Prof. dr. Abdulrachman Saleh

"Manifestasi Intelektualisme Kedokteran, Pionir Gelombang Radio, dan Pengabdian Tertinggi di Cakrawala Dirgantara."

Lanud ABD Saleh Bapak Fisiologi
Abdulrachman Saleh

Motto Hidup

"The Right Man in the Right Place"

Pangkat Terakhir

Marsekal Muda TNI (Anumerta)

Penghargaan

Pahlawan Nasional (1974)

Arsip Biografi Resmi

Abdulrachman Saleh

Laboratorium, Udara, dan Gelombang Radio: Perjuangan Tanpa Batas.

I. Intelektualitas di Masa Kolonial

Lahir di Jakarta pada 1 Juli 1909, Abdulrachman Saleh berasal dari keluarga terpelajar. Ayahnya, Mohammad Saleh, adalah dokter pribumi terkemuka yang dikenal memiliki disiplin tinggi dalam dunia medis kolonial. Sejak menempuh pendidikan di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) hingga Geneeskundige Hoogeschool (GHS), ia dikenal dengan julukan "Karbol" karena kecerdasannya yang melampaui rata-rata. Nama ini kini diabadikan sebagai sebutan bagi Taruna Akademi Angkatan Udara (AAU).

Di lingkungan kampus, ia dikenal tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga aktif dalam diskusi intelektual mengenai masa depan bangsa. Ia percaya bahwa kemerdekaan sejati hanya dapat dicapai melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan sekadar perjuangan fisik semata.

II. Bapak Fisiologi & Kedokteran Penerbangan

Setelah lulus sebagai dokter, ia menjadi pionir dalam ilmu Fisiologi. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Guru Besar Fisiologi. Melalui risetnya, ia meletakkan dasar Kedokteran Penerbangan (Aeromedicine) di tanah air, mempelajari bagaimana kondisi fisik manusia bereaksi saat berada di ketinggian ekstrem—sebuah ilmu yang krusial bagi dunia militer udara.

Penelitiannya banyak difokuskan pada pengaruh tekanan udara, kekurangan oksigen, dan kelelahan pilot. Temuan-temuannya menjadi rujukan awal bagi sistem seleksi dan pelatihan penerbang Indonesia pada masa awal pembentukan angkatan udara nasional.

III. Perintis RRI & Perang Informasi

Kontribusinya tidak hanya di laboratorium. Berdasarkan catatan sejarah penyiaran, beliau adalah salah satu tokoh kunci berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945. Beliau memimpin pertemuan para tokoh radio di Jakarta dan memastikan suara kemerdekaan tetap menggema di tengah blokade informasi penjajah.

Pada masa itu, radio menjadi satu-satunya alat komunikasi yang mampu menembus batas wilayah dan propaganda kolonial. Melalui siaran radio, ia membantu menyebarkan legitimasi Republik Indonesia ke dunia internasional.

IV. Pangkalan Udara & Hubungan dengan Malang

Berdasarkan data sejarah yang dirujuk oleh Dishub Malang dan Pemerintah Daerah, nama beliau diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang. Pangkalan ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu basis pertahanan udara terpenting di Jawa Timur, mencerminkan dedikasi beliau dalam membangun kekuatan dirgantara di wilayah tersebut.

Malang dipilih karena letaknya yang strategis, memiliki kondisi geografis ideal untuk pelatihan penerbang, serta relatif aman dari serangan langsung pada masa revolusi fisik.

V. Tragedi Dakota VT-CLA & Hari Bakti

Pada 29 Juli 1947, dalam misi kemanusiaan membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya, pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpanginya bersama Adisutjipto ditembak jatuh oleh dua pesawat Kittyhawk Belanda di langit Yogyakarta. Tragedi ini menjadi luka besar bagi bangsa..

Pesawat tersebut sebenarnya telah memiliki tanda palang merah internasional, namun tetap diserang tanpa peringatan. Insiden ini memperlihatkan kerasnya konflik diplomatik antara Indonesia dan Belanda pada masa awal kemerdekaan.

Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Bakti TNI AU untuk mengenang pengabdian tulus sang dokter-penerbang ini.

VI. Warisan Abadi

Abdulrachman Saleh adalah bukti nyata seorang teknokrat yang nasionalis. Beliau membuktikan bahwa senjata untuk merdeka tidak hanya bambu runcing, melainkan juga ilmu kedokteran yang mumpuni, teknologi radio yang canggih, dan keberanian di udara.

Ia dikenang sebagai simbol intelektual pejuang: ilmuwan, komunikator, sekaligus prajurit. Warisannya hidup dalam dunia akademik, militer, dan penyiaran nasional hingga hari ini.

AS
TN

Sumber: Wikipedia & Arsip Daerah Malang

1909

Fajar Sang Karbol

Lahir di Jakarta, 1 Juli 1909. Sebagai putra dari dr. Mohammad Saleh, ia tumbuh di lingkungan yang mengutamakan sains. Kecerdasannya yang fenomenal di STOVIA membuatnya dijuluki "Karbol", simbol ketajaman intelektual yang kelak menjadi standar kebanggaan bagi seluruh Taruna Akademi Angkatan Udara.

1937

Guru Besar & Kedokteran Udara

Mendalami ilmu Fisiologi dan menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Guru Besar Fisiologi di GHS. Ia mulai meneliti dampak ketinggian terhadap tubuh manusia, meletakkan fondasi pertama "Aeromedicine" (Kedokteran Penerbangan) yang sangat langka di Asia pada masa itu.

1945

Pendirian RRI

Memimpin konsolidasi teknisi radio pasca-proklamasi. Dengan peralatan rakitan, ia memastikan suara kemerdekaan menembus blokade informasi Belanda melalui "Voice of Free Indonesia", yang menjadi embrio lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI).

1946

Sayap Dirgantara RI

Bergabung dengan TRI-Udara (AURI). Bersama Adisutjipto, ia mengubah pesawat rongsokan peninggalan Jepang seperti Cureng dan Nishikoreng menjadi armada tempur pertama Indonesia, sekaligus melatih generasi pertama penerbang pribumi di tengah keterbatasan.

1947

Tragedi Dakota VT-CLA

Misi kemanusiaan membawa obat-obatan dari Malaya berakhir tragis pada 29 Juli. Pesawat Dakota VT-CLA yang dikemudikannya ditembak jatuh oleh P-40 Kittyhawk Belanda di Ngoto. Peristiwa ini diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU, simbol pengorbanan tertinggi bagi kedaulatan negara.

1952

Abadi di Bumi Malang

Pangkalan Udara Bugis di Malang secara resmi berganti nama menjadi Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh. Berdasarkan catatan sejarah perhubungan, pangkalan ini dipersiapkan menjadi salah satu pangkalan udara militer paling strategis di Jawa Timur.

1974

Penganugerahan Pahlawan Nasional

Melalui SK Presiden No. 071/TK/1974, Abdulrachman Saleh secara resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Pengakuan ini menegaskan dedikasi multidisiplin beliau sebagai dokter, teknokrat radio, sekaligus penerbang pejuang.

1994-2011

Transformasi Enklave Sipil

Lanud Abdulrachman Saleh mulai membuka diri untuk penerbangan sipil secara terbatas. Sesuai data Dishub Malang, pada tahun 2011, operasional bandara ini semakin berkembang pesat sebagai gerbang utama wisata dan ekonomi Malang Raya, menghubungkan kota ini dengan Jakarta dan Bali.

2026

Warisan Tanpa Batas

Kini, nama Abdulrachman Saleh bukan sekadar nama bandara. Semangatnya hidup dalam setiap Taruna AAU (Karbol) dan inovasi teknologi medis-militer Indonesia. Bandara ini terus bertransformasi menjadi pusat mobilitas modern di Jawa Timur, menjaga pesan abadi: "Ilmu pengetahuan adalah sayap kemerdekaan."

"Ilmu pengetahuan adalah sayap untuk terbang menuju kemerdekaan yang hakiki."

— Prof. dr. Abdulrachman Saleh —